
mimi_hitamMay 17th Female
I'm the Fool One who always,
..living in the moment.. ..Trusting the flow of life.. ..Taking crazy chance.. ..Taking the foolish path.. ..acting on impulse.. ..Trusting one heart's desire..
Is that so wrong about being a fool?
12 signs that you know me well....:
You know why people calling me black instead of Rina You know that i had a head surgery when i was 5 because a grandfather clock fell into my head You will never ask me to quit smoking You will call me flirty You will ask me to give you a massage You will remind me to check my belongings You won't bother to give me the bus route, because i will end up going by taxi You will not make me wait for more than half an hour at the mall due to my shopping habit You won't get pissed each time i give you strange question In the bar, you will buy me liqour instead of beer becuz u know that i hate beers. you won't bother to tell me a racist joke because i will hardly laugh you know i can eat any kind of food except ati dan ampela
|

|
 |

 |
 |
Kenapa ya akhir-akhir ini saya malas sekali ngapa-ngapain... Pekerjaan sudah numpuk......tapi gak seperti biasanya, saya enggak tergerak sama sekali untuk mulai ngerjainnya....
Sedih banget..... enggak produktif sekali....
Posted at 11:48 pm by mimi_hitam
Permalink
write one story a day so i can read it to you, one day at a time
Posted at 10:48 pm by mimi_hitam
Permalink
A baby to be in my tummy...
Yup..yup...yup.... Saya hamil. saya hamil. saya hamil. Sebenarnya sadarnya sudah dari 2 minggu yang lalu, trus minggu lalu udah di ultrasound vaginal. Waktu itu umurnya 5 minggu 3 hari, berarti sekarang udah 6 minggu donk ya...Seeennaaaaaaanggggnyaaaa.....!!!!! Ayo ayo beri saya selamat.
Mual-mual banget sih kayaknya enggak....tapi ya begitulah, manja berlebihan dan keenakan karena diturutin sama orang-orang. Hehehehe. Mau minum jus jeruk malem-malem, hayu...dibuatin. Mau makan semangka dingin sore-sore, dicariin. Mau makan siomay kingsley dari Bandung, bener-bener dibeliiin. Aih senangnya punya orang-orang yang sayang sama sayaaaaa!!!! Mwahahahahaha.
Posted at 11:22 pm by mimi_hitam
Permalink
Entah kenapa, penyakit lama saya kambuh lagi. Sudah jam 5:14 di Jogja, tapi saya belum bisa beristirahat tenang. Sepertinya insomnia yang kemarin-kemarin sempat hilang dari peredaran menemukan jalannya kembali ke dunia saya. Atau mungkin diri saya yang lain sedang resah, sehingga terus menerus merongrong saya untuk mendapatkan perhatian cukup. Atau….kemungkinan terakhir adalah, saya perlahan tapi pasti ditarik kembali ke dunia nyata, setelah sebelumnya disibukkan dengan persiapan pernikahan, euphoria paska pernikahan sampai bulan madu. Kayaknya kemungkinan terakhir paling realistis yach? Mengingat esok saya harus kembali ke Jakarta, dan harus mulai bergumul lagi dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk. Kadang-kadang jadi ketawa sendirian kalau ingat saya sudah menikah. Hiii….kok kayaknya rasanya aneh banget yach? Jangan salah, rasa ini datang bukan karena saya gak yakin sama pasangan saya lho. Kalau yakin sih yakin….because he feels right, keberadaan dia dekat saya terasa sangat wajar, seperti memang seharusnya. Tapi yang buat saya aneh adalah pernikahan itu sendiri. Mungkin karena selama ini saya terlalu terbiasa samen laven (hehehehe….), terlalu terbiasa membagi hidup dengan pacar-pacar saya. Jadinya ketika masuk ke jenjang pernikahan dan semua orang sepertinya hobi banget membesar-besarkan arti pernikahan itu, saya kok jadi ngerasa…"Lah? Memang apa bedanya dengan sebelum-sebelumnya?". Pastinya memang ada yang beda. Saya tahu itu, walaupun saya belum menemukan yang paling signifikan. Tapi sejujurnya saya memang sedari dulu menghindari untuk membesar-besarkan arti pernikahan. Sampai sekarang pun, saya enggan menyebut pasangan saya dengan sebutan "suami", kayaknya kok aneh ya? Kayaknya istilah suami/istri itu punya konotasi sendiri, yang didalamnya memuat peran-peran yang lazim dianut masyarakat, misalnya: suami sebagai kepala rumah tangga, suami sebagai imam, istri sebagai penjaga keharmonisan rumah tangga, istri sebagai pemelihara rumah tangga. Halah. I don't believe in all that crap. Saya gak mau terjebak dalam peran-peran yang kemudian bertentangan dengan apa yang saya percaya. Intinya sih, saya enggak mau terjebak dalam mitos-mitos pernikahan yang umum dipahami oleh masyarakat. Pertama, ya mitos pembagian peran yang saya sebutin diatas, Kedua, mitos bahwa pernikahan adalah ambang kehilangan jati diri. Ketiga, mitos bahwa pernikahan bertujuan untuk menghasilkan keturunan dan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Untuk mitos ketiga, ya sudahlah saya enggak akan banyak komentar. Tapi sejujurnya, saya paling takut dengan mitos yang kedua. Karena mitos ini yang paling mengancam diri saya. Milan Kundera dalam fiksinya berjudul "Identity" menggambarkan bagaimana sebuah komitmen jangka panjang selalu menghasilkan kompromi-kompromi. Ya well, memang mungkin kompromi itu wajar banget yach? Karena tidak ada orang yang punya keinginan dan kebutuhan yang sama, sehingga untuk bisa terus bersama mau tidak mau kompromi harus dilakukan. Tapi kemudian, kompromi yang berlebihan akhirnya membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Hal ini bisa banget lho terjadi, misalnya nih: Pasangan Mr. X dan Mrs. X baru menikah dan ingin melakukan semua upaya untuk dapat membahagiakan satu sama lain. Mereka kemudian mencoba untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mereka (baik/buruk) yang mereka tahu tidak disukai pasangannya. Wajar lah, baru menikah, jadinya in the name of love semuanya terasa mudah dan mungkin. Tahun pertama, tahun kedua, semuanya baik-baik saja. Enggak ada masalah. Ternyata memang kebiasaan itu bisa ditinggalkan kok, pikir mereka. No harm done. Perlahan-lahan, muncul tuntutan-tuntutan untuk membuang kebiasaan lama yang lain, atau malah tuntutan-tuntutan untuk memulai kebiasaan baru yang selama ini tidak pernah terlintas sedikit pun di kepala mereka. Hebatnya lagi, tuntutan itu kadang bukan datang dari pasangan mereka tapi simply dari keinginan untuk menyenangkan hati pasangan saja. And…Zap! Without they even knowing it, they lost their true self. Make sense gak sih? Apakah emang itu yang harusnya terjadi yach? Apa saya aja yang terlalu egois untuk tidak mau merubah apapun dari diri saya?. Sejujurnya hal ini udah mulai berasa, dan hebatnya lagi…pasangan saya bahkan tidak pernah meminta saya untuk berubah atau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan apapun. Saya hanya nebak-nebak aja dari penggalan-penggalan obrolan, baik kepada saya atau kepada orang lain. Tapi kemudian emang jadinya saya yang aneh…yang suka ngebuat pasangan saya bingung ngeliat saya misuh-misuh, resah dan marah-marah enggak jelas. Kayak freak out sama sesuatu yang enggak nyata. Jadinya, mulai sekarang saya memutuskan untuk enggak mikir macem-macem. Prinsipnya satu deh, sesuatu itu nyata ketika ia ada (it's debatable of course, but hey, it's easier that way). Semua asumsi-asumsi yang tidak berdasarkan fakta-fakta harus dieliminir segera dan saya, ya seorang saya, harus lebih SABAR. Lagipula, saya dan pasangan udah punya komitmen kok untuk tetap punya ruang privat, dan saling menghargai ruang privat masing-masing. Saya pikir itu cukup untuk membuat kita jangan sampai kehilangan jati diri. Rite? Rite? Rite?
Posted at 04:06 pm by mimi_hitam
Permalink
Saat ini saya lagi ada di fase baru dalam hidup saya. Ibaratnya masuk ke rumah, saya masih di ambang pintu. Satu kaki udah masuk, kaki yang lain masih di luar. Masih gamang...
Tapi..... untungnya ada tangan kamu yang genggam aku kan, Yang?
Posted at 04:02 pm by mimi_hitam
Permalink
Posted at 04:19 pm by mimi_hitam
Permalink
| |
Wednesday, January 30, 2008 |
Hari ini saya mendapatkan berita duka. Ibu salah satu teman saya meninggal dunia setelah berminggu-minggu di rawat di ICU. Ketika terakhir kali berbicara dengan teman saya di telpon, Ia mengatakan bahwa ibunya yang kesehatannya sebelumnya sudah membaik, tiba-tiba masuk ICU lagi... Lucunya, hari ini...ketika sedang membersihkan file2 berceceran di notebook, saya menemukan tulisan ini: 18 Agustus 2007
Kamarku malam ini
dipenuhi hawa firasat buruk. Beratus-ratus malam sebelumnya aku memang selalu tak dapat
tidur, Namun kali ini suasanya berbeda, seperti ada ribuan
pikiran-pikiran remeh yang menuntut untuk diperhatikan, dan semuanya bermuara kepada
sosok perempuan yang kupanggil ibu.
Ini bukan pertama kalinya aku mendapatkan kabar buruk dari
rumah, Juga bukan pertama kalinya ia harus menginap di ruang ICU
lagi. Tapi firasat buruk seperti ini memang baru pertama kalinya
datang. Dan hal itu membuatku takut, karena sejak dulu aku tahu, Firasatku jarang
salah.
Aku takut. Karena belum dapat membuktikan apa-apa, Belum dapat memberikan apa-apa, Belum dapat menebus semua waktu yang terbuang dulu, Ketika hari dan malamku dipenuhi tanpa sedetikpun berusaha,
untuk sekedar mengingat dan mensyukuri.
Kalaupun mau
berdoa, aku bingung dengan cara apa. Atau kepada siapa. ----------- all my sympathy to dearest friend.. Be brave......
*tapi sebenarnya yang membuat saya heran juga, bisa-bisanya saya yang selalu sedih kalau mendengar berita duka cita ini, malah benci sekali ketika mendengar seseorang yang baru wafat di Cendana sana, dielu-elukan dan dibanggakan.
Posted at 03:30 pm by mimi_hitam
Permalink
| |
Tuesday, January 29, 2008 |
Ketika Rara Tidak Membaca Mimpinya
Akhir-akhir
ini setan sering berkunjung ke mimpi-mimpi Rara. Ia mengenali setan itu karena
persis sama dengan gambaran iblis-iblis jahat di buku-buku. Mukanya berbentuk
kambing, lengkap dengan tanduk melengkung ke luar dan berkaki kuda. Makanya
saat Rara melihatnya pertama kali, ia berkata dalam hati, “Ah…ternyata ini yang
namanya dajjal, ya…ya…luar biasa,”
Anehnya,
ketika Rara terbangun dan mencoba mengingat mimpinya kembali, tidak pernah
sekalipun ia mengingat merasa takut ketika berdekatan dengan setan itu.
Perasaannya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Gembira tidak, mengerikan
tidak, sedih tidak, marah tidak, pokoknya tawar-tawar saja. Ia terbangun dengan
tubuh tanpa keringat dan pipi tanpa dibahasi air mata. Rara merasakan hal ini
aneh. Baginya tidak ada kewajaran dalam kenyataan itu. Berbeda jauh dari
cerita-cerita di buku, film dan serial misteri yang selalu menyiratkan
kehadiran setan dengan rasa takut yang luar biasa.
Penasaran
dengan hal itu, Rara memutuskan untuk lebih mencoba mengingat mimpinya. Karena
yakin sang setan akan berkunjung lagi malam esoknya, Rara menyiapkan buku kecil
dan pena di sebelah bantalnya, dengan rencana untuk cepat-cepat menuliskan
setiap detail yang ia ingat sesaat setelah ia terbangun. Kata orang-orang cara
itu yang paling ampuh untuk dapat mengingat mimpi, karena orang yang baru
terbangun dari tidur biasanya masih berada dalam gelombang dimensi yang tidak
sama, raganya sudah sampai, jiwanya masih berjuang untuk kembali.
Tidurlah Rara.
Dengan sebelumnya berdoa dalam hati, mudah-mudahan sang Setan mau bertandang
sebentar agar Rara dapat melakukan ekperimen kecil untuk menguji hipotesisnya.
Ternyata memang niat adalah doa yang paling mujarab, seorang insomnia parah
seperti Rara bisa tertidur sesaat setelah kepalanya menyentuh bantal.
Nah, Selanjutnya
Rara tidak begitu ingat lagi apa yang terjadi, namun yang ia ingat betul adalah
di dalam gelap, Rara terbangun dan mengingat memaksakan diri mencari-cari buku
kecil dan penanya, menyalakan senter sambil menulis sembarangan apa yang ada
dalam otaknya. Tak kuasa menahan kantuk yang menyergapnya, Rara pun tertidur
lagi. Kali ini tanpa mimpi.
Keesokan
paginya, mimpinya sudah memudar kembali. Ia hanya sempat bersorak dalam hati
mengingat samar-samar bahwa ia bertemu dengan si dajjal lagi. Rara sengaja
untuk tidak menyentuh buku kecilnya sama sekali. Melirikpun tidak. Ia makan,
mandi, menghisap dua batang rokok sambil berusaha mengusir rasa penasaran yang
sudah merongrong meminta ditanggapi. Tapi Rara cuek saja. Nanti saja, pikirnya begitu, setelah
selesai wawancara dengan Nur, menghadiri pertemuan bersama para ibu-ibu di
balai desa dan menyusun laporan penelitiannya untuk kemudian langsung
dikirimkan ke kantor di Jakarta. Nanti
saja, tegasnya, Nanti Malam.
Malam itu desa
Loni Ande, Sulawesi Tengah gempar. Semua penduduk desa, baik laki-laki
perempuan, tua dan muda keluar dari rumahnya masing-masing. Menyebar ke setiap
pelosok desa dan hutan-hutan. Pasalnya pertemuan ibu-ibu yang dilakukan dibalai
desa, setelah Maghrib tiba-tiba diserbu oleh orang-orang tak dikenal. Semuanya
laki-laki, sekitar 30 orang, memegang parang dan mengancam. Padahal hanya
pertemuan ibu-ibu, sedang membahas tentang upaya-upaya untuk membantu proses
tuntutan Nuriyah, seorang mantan buruh migran yang 1 bulan lalu ditelanjangi,
diarak, dipukuli oleh diperkosa karena ketahuan hamil di luar nikah. Tentu saja
pelaku kasus Nuriyah sudah ditangkap, kelompok laki-laki yang datang kali ini berasal
dari gerombolan lain, bukan penduduk desa. Dalam penyerbuan balai desa ini,
banyak ibu-ibu dan perempuan desa yang dipukul dan dilukai sebelum akhirnya
gerombolan itu membawa pergi Nuriyah dan
seorang aktivis perempuan yang sedang melakukan penelitian disana. Ketika para
pemuda desa datang untuk mengusir mereka, Nuriyah dan aktivis itu sudah dibawa
pergi, bahan-bahan penelitian aktivis itu juga dibawa. Tidak ada yang tersisa.
Hanya ada satu buku kecil yang sepertinya luput dari perhatian sang penculik.
Dalam buku itu hanya ada sepenggalan kalimat yang ditulis asal-asalan dan
isinya hampir tidak masuk akal, tulisannya:
Gelap. Sinar putih. Dia datang lagi.
Tidak takut. Aku datangi. Lalu ia mencengkram tanganku. Sesaat ia langsung
berubah, tidak berwujud setan, hanya laki-laki biasa. Bajunya putih. Dengan
sorban putih. Ia tersenyum jahat. Dan Aku mulai berubah. Aku sekarang menjadi
setan-nya. Tandukku tumbuh, kakiku tumbuh, buntutku tumbuh. Aku marah. Marah,
teriak, kenapa aku setannya??!!!
Seminggu
kemudian, sekitar 15 km dari desa Loni Ande, tubuh Rara ditemukan. Sudah
terbujur mati dan dikerubungi lalat. Vaginanya dirusak, matanya membelak
keluar, rambutnya gundul dan memperlihatkan jelas borok-borok luka di kulit
kepalanya bekas dipukuli. Ketika awal ditemukan tubuh Rara telengkup, mereka
membalikkan badannya, dan menemukan sebuah kertas karton yang dikalungkan ke lehernya. Ada 2 kata
tertulis jelas di atas kertas itu.
Setan Betina.
Posted at 07:20 pm by mimi_hitam
Permalink
| |
Tuesday, December 25, 2007 |
Setiap orang tentu mengharapkan yang terbaik untuk hidupnya.
Saya percaya itu. Oleh karena itu, apapun yang saya lakukan, saya mencoba untuk melakukannya dengan kesadaran penuh untuk menuju sebuah kemajuan. Sayangnya dalam melakukan itu (walaupun saya benar-benar berharap tidak demikian adanya) ada orang-orang yang terpaksa saya tinggalkan dan sakiti.
Maaf.
Saya mungkin cocok menyandang predikat perempuan egois nomor 1 di dunia. Namun apakah mencintai jiwa dan hati sendiri adalah suatu hal yang terlalu salah?.
Cukup sudah, Pria…
Musim telah berganti. Dan tak ada lagi sepasang sayap yang dapat kupinjamkan.
Kali ini aku harus terbang sendiri.
Meninggalkanmu.
Maaf.
Posted at 08:06 pm by mimi_hitam
Permalink
| |
Saturday, December 22, 2007 |
Untuk ibu (yang kini telah menjadi bidadari)
Hari ini aku terlalu rindu, Ibu... Begitu rindunya, sampai dada terasa sesak dan benakku panik mencari-cari sosokmu. Panik karena aku begitu takut lupa, akan garis wajah, senyum, pandangan mata, dan hangatnya pelukan.
Semua kata-katamu yang dulu susah payah aku sanggah, kini terlontar kembali di saat-saat aku di gerbang kedewasaan. Termanifestasi seutuhnya. Dan aku bersyukur sekali tentang semua ajaran dan prinsip hidup yang kau wariskan kepadaku.
Walaupun memalukan, sungguh. Apabila mengingat bahwa aku membencimu selama hampir 3/4 hidupku, dan kini lihatlah aku, mengagumi di setiap hari, menit, dan detik. Di setiap helaan nafas dan sapuan air mata. Kau takkan tergantikan.
Posted at 05:56 pm by mimi_hitam
Permalink
|
 |
 |