mimi_hitam
May 17th
Female


I'm the Fool
One who always,

..living in the moment..
..Trusting the flow of life..
..Taking crazy chance..
..Taking the foolish path..
..acting on impulse..
..Trusting one heart's desire..

Is that so wrong about being a fool?


12 signs that you know me well....:

  • You know why people calling me black instead of Rina
  • You know that i had a head surgery when i was 5 because a grandfather clock fell into my head
  • You will never ask me to quit smoking
  • You will call me flirty
  • You will ask me to give you a massage
  • You will remind me to check my belongings
  • You won't bother to give me the bus route, because i will end up going by taxi
  • You will not make me wait for more than half an hour at the mall due to my shopping habit
  • You won't get pissed each time i give you strange question
  • In the bar, you will buy me liqour instead of beer becuz u know that i hate beers.
  • you won't bother to tell me a racist joke because i will hardly laugh
  • you know i can eat any kind of food except ati dan ampela
  •    

    << March 2008 >>
    Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
     01
    02 03 04 05 06 07 08
    09 10 11 12 13 14 15
    16 17 18 19 20 21 22
    23 24 25 26 27 28 29
    30 31



    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed










     
    Sunday, March 23, 2008
    Penyakit Lama Kambuh

    Entah kenapa, penyakit lama saya kambuh lagi.

    Sudah jam 5:14 di Jogja, tapi saya belum bisa beristirahat tenang. Sepertinya insomnia yang kemarin-kemarin sempat hilang dari peredaran menemukan jalannya kembali ke dunia saya. Atau mungkin diri saya yang lain sedang resah, sehingga terus menerus merongrong saya untuk mendapatkan perhatian cukup. Atau….kemungkinan terakhir adalah, saya perlahan tapi pasti ditarik kembali ke dunia nyata, setelah sebelumnya disibukkan dengan persiapan pernikahan, euphoria paska pernikahan sampai bulan madu. Kayaknya kemungkinan terakhir paling realistis yach? Mengingat esok saya harus kembali ke Jakarta, dan harus mulai bergumul lagi dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk.

    Kadang-kadang jadi ketawa sendirian kalau ingat saya sudah menikah. Hiii….kok kayaknya rasanya aneh banget yach? Jangan salah, rasa ini datang bukan karena saya gak yakin sama pasangan saya lho. Kalau yakin sih yakin….because he feels right, keberadaan dia dekat saya terasa sangat wajar, seperti memang seharusnya. Tapi yang buat saya aneh adalah pernikahan itu sendiri. Mungkin karena selama ini saya terlalu terbiasa samen laven (hehehehe….), terlalu terbiasa membagi hidup dengan pacar-pacar saya. Jadinya ketika masuk ke jenjang pernikahan dan semua orang sepertinya hobi banget membesar-besarkan arti pernikahan itu, saya kok jadi ngerasa…"Lah? Memang apa bedanya dengan sebelum-sebelumnya?".

    Pastinya memang ada yang beda. Saya tahu itu, walaupun saya belum menemukan yang paling signifikan. Tapi sejujurnya saya memang sedari dulu menghindari untuk membesar-besarkan arti pernikahan. Sampai sekarang pun, saya enggan menyebut pasangan saya dengan sebutan "suami", kayaknya kok aneh ya? Kayaknya istilah suami/istri itu punya konotasi sendiri, yang didalamnya memuat peran-peran yang lazim dianut masyarakat, misalnya: suami sebagai kepala rumah tangga, suami sebagai imam, istri sebagai penjaga keharmonisan rumah tangga, istri sebagai pemelihara rumah tangga. Halah. I don't believe in all that crap. Saya gak mau terjebak dalam peran-peran yang kemudian bertentangan dengan apa yang saya percaya.

    Intinya sih, saya enggak mau terjebak dalam mitos-mitos pernikahan yang umum dipahami oleh masyarakat. Pertama, ya mitos pembagian peran yang saya sebutin diatas, Kedua, mitos bahwa pernikahan adalah ambang kehilangan jati diri. Ketiga, mitos bahwa pernikahan bertujuan untuk menghasilkan keturunan dan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.

    Untuk mitos ketiga, ya sudahlah saya enggak akan banyak komentar. Tapi sejujurnya, saya paling takut dengan mitos yang kedua. Karena mitos ini yang paling mengancam diri saya. Milan Kundera dalam fiksinya berjudul "Identity" menggambarkan bagaimana sebuah komitmen jangka panjang selalu menghasilkan kompromi-kompromi. Ya well, memang mungkin kompromi itu wajar banget yach? Karena tidak ada orang yang punya keinginan dan kebutuhan yang sama, sehingga untuk bisa terus bersama mau tidak mau kompromi harus dilakukan. Tapi kemudian, kompromi yang berlebihan akhirnya membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Hal ini bisa banget lho terjadi, misalnya nih: Pasangan Mr. X dan Mrs. X baru menikah dan ingin melakukan semua upaya untuk dapat membahagiakan satu sama lain. Mereka kemudian mencoba untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mereka (baik/buruk) yang mereka tahu tidak disukai pasangannya. Wajar lah, baru menikah, jadinya in the name of love semuanya terasa mudah dan mungkin. Tahun pertama, tahun kedua, semuanya baik-baik saja. Enggak ada masalah. Ternyata memang kebiasaan itu bisa ditinggalkan kok, pikir mereka. No harm done. Perlahan-lahan, muncul tuntutan-tuntutan untuk membuang kebiasaan lama yang lain, atau malah tuntutan-tuntutan untuk memulai kebiasaan baru yang selama ini tidak pernah terlintas sedikit pun di kepala mereka. Hebatnya lagi, tuntutan itu kadang bukan datang dari pasangan mereka tapi simply dari keinginan untuk menyenangkan hati pasangan saja. And…Zap! Without they even knowing it, they lost their true self.

    Make sense gak sih? Apakah emang itu yang harusnya terjadi yach? Apa saya aja yang terlalu egois untuk tidak mau merubah apapun dari diri saya?. Sejujurnya hal ini udah mulai berasa, dan hebatnya lagi…pasangan saya bahkan tidak pernah meminta saya untuk berubah atau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan apapun. Saya hanya nebak-nebak aja dari penggalan-penggalan obrolan, baik kepada saya atau kepada orang lain.  Tapi kemudian emang jadinya saya yang aneh…yang suka ngebuat pasangan saya bingung ngeliat saya misuh-misuh, resah dan marah-marah enggak jelas. Kayak freak out sama sesuatu yang enggak nyata.

    Jadinya, mulai sekarang saya memutuskan untuk enggak mikir macem-macem. Prinsipnya satu deh, sesuatu itu nyata ketika ia ada (it's debatable of course, but hey, it's easier that way). Semua asumsi-asumsi yang tidak berdasarkan fakta-fakta harus dieliminir segera dan saya, ya seorang saya, harus lebih SABAR.

    Lagipula, saya dan pasangan udah punya komitmen kok untuk tetap punya ruang privat, dan saling menghargai ruang privat masing-masing. Saya pikir itu cukup untuk membuat kita jangan sampai kehilangan jati diri. Rite? Rite? Rite?


    Posted at 04:06 pm by mimi_hitam

     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home Next Entry