Entry: Ketika Rara Tidak Membaca Mimpinya Tuesday, January 29, 2008



Akhir-akhir ini setan sering berkunjung ke mimpi-mimpi Rara. Ia mengenali setan itu karena persis sama dengan gambaran iblis-iblis jahat di buku-buku. Mukanya berbentuk kambing, lengkap dengan tanduk melengkung ke luar dan berkaki kuda. Makanya saat Rara melihatnya pertama kali, ia berkata dalam hati, “Ah…ternyata ini yang namanya dajjal, ya…ya…luar biasa,”

Anehnya, ketika Rara terbangun dan mencoba mengingat mimpinya kembali, tidak pernah sekalipun ia mengingat merasa takut ketika berdekatan dengan setan itu. Perasaannya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Gembira tidak, mengerikan tidak, sedih tidak, marah tidak, pokoknya tawar-tawar saja. Ia terbangun dengan tubuh tanpa keringat dan pipi tanpa dibahasi air mata. Rara merasakan hal ini aneh. Baginya tidak ada kewajaran dalam kenyataan itu. Berbeda jauh dari cerita-cerita di buku, film dan serial misteri yang selalu menyiratkan kehadiran setan dengan rasa takut yang luar biasa.

Penasaran dengan hal itu, Rara memutuskan untuk lebih mencoba mengingat mimpinya. Karena yakin sang setan akan berkunjung lagi malam esoknya, Rara menyiapkan buku kecil dan pena di sebelah bantalnya, dengan rencana untuk cepat-cepat menuliskan setiap detail yang ia ingat sesaat setelah ia terbangun. Kata orang-orang cara itu yang paling ampuh untuk dapat mengingat mimpi, karena orang yang baru terbangun dari tidur biasanya masih berada dalam gelombang dimensi yang tidak sama, raganya sudah sampai, jiwanya masih berjuang untuk kembali.

Tidurlah Rara. Dengan sebelumnya berdoa dalam hati, mudah-mudahan sang Setan mau bertandang sebentar agar Rara dapat melakukan ekperimen kecil untuk menguji hipotesisnya. Ternyata memang niat adalah doa yang paling mujarab, seorang insomnia parah seperti Rara bisa tertidur sesaat setelah kepalanya menyentuh bantal.

Nah, Selanjutnya Rara tidak begitu ingat lagi apa yang terjadi, namun yang ia ingat betul adalah di dalam gelap, Rara terbangun dan mengingat memaksakan diri mencari-cari buku kecil dan penanya, menyalakan senter sambil menulis sembarangan apa yang ada dalam otaknya. Tak kuasa menahan kantuk yang menyergapnya, Rara pun tertidur lagi. Kali ini tanpa mimpi.

Keesokan paginya, mimpinya sudah memudar kembali. Ia hanya sempat bersorak dalam hati mengingat samar-samar bahwa ia bertemu dengan si dajjal lagi. Rara sengaja untuk tidak menyentuh buku kecilnya sama sekali. Melirikpun tidak. Ia makan, mandi, menghisap dua batang rokok sambil berusaha mengusir rasa penasaran yang sudah merongrong meminta ditanggapi. Tapi Rara cuek saja. Nanti saja, pikirnya begitu, setelah selesai wawancara dengan Nur, menghadiri pertemuan bersama para ibu-ibu di balai desa dan menyusun laporan penelitiannya untuk kemudian langsung dikirimkan ke kantor di Jakarta. Nanti saja, tegasnya, Nanti Malam.

 

 
Malam itu desa Loni Ande, Sulawesi Tengah gempar. Semua penduduk desa, baik laki-laki perempuan, tua dan muda keluar dari rumahnya masing-masing. Menyebar ke setiap pelosok desa dan hutan-hutan. Pasalnya pertemuan ibu-ibu yang dilakukan dibalai desa, setelah Maghrib tiba-tiba diserbu oleh orang-orang tak dikenal. Semuanya laki-laki, sekitar 30 orang, memegang parang dan mengancam. Padahal hanya pertemuan ibu-ibu, sedang membahas tentang upaya-upaya untuk membantu proses tuntutan Nuriyah, seorang mantan buruh migran yang 1 bulan lalu ditelanjangi, diarak, dipukuli oleh diperkosa karena ketahuan hamil di luar nikah. Tentu saja pelaku kasus Nuriyah sudah ditangkap, kelompok laki-laki yang datang kali ini berasal dari gerombolan lain, bukan penduduk desa. Dalam penyerbuan balai desa ini, banyak ibu-ibu dan perempuan desa yang dipukul dan dilukai sebelum akhirnya gerombolan  itu membawa pergi Nuriyah dan seorang aktivis perempuan yang sedang melakukan penelitian disana. Ketika para pemuda desa datang untuk mengusir mereka, Nuriyah dan aktivis itu sudah dibawa pergi, bahan-bahan penelitian aktivis itu juga dibawa. Tidak ada yang tersisa. Hanya ada satu buku kecil yang sepertinya luput dari perhatian sang penculik. Dalam buku itu hanya ada sepenggalan kalimat yang ditulis asal-asalan dan isinya hampir tidak masuk akal, tulisannya:

Gelap. Sinar putih. Dia datang lagi. Tidak takut. Aku datangi. Lalu ia mencengkram tanganku. Sesaat ia langsung berubah, tidak berwujud setan, hanya laki-laki biasa. Bajunya putih. Dengan sorban putih. Ia tersenyum jahat. Dan Aku mulai berubah. Aku sekarang menjadi setan-nya. Tandukku tumbuh, kakiku tumbuh, buntutku tumbuh. Aku marah. Marah, teriak, kenapa aku setannya??!!!

Seminggu kemudian, sekitar 15 km dari desa Loni Ande, tubuh Rara ditemukan. Sudah terbujur mati dan dikerubungi lalat. Vaginanya dirusak, matanya membelak keluar, rambutnya gundul dan memperlihatkan jelas borok-borok luka di kulit kepalanya bekas dipukuli. Ketika awal ditemukan tubuh Rara telengkup, mereka membalikkan badannya, dan menemukan sebuah kertas karton  yang dikalungkan ke lehernya. Ada 2 kata tertulis jelas di atas kertas itu.

Setan Betina.

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments