Entry: Penyakit Lama Kambuh Sunday, March 23, 2008



Entah kenapa, penyakit lama saya kambuh lagi.

Sudah jam 5:14 di Jogja, tapi saya belum bisa beristirahat tenang. Sepertinya insomnia yang kemarin-kemarin sempat hilang dari peredaran menemukan jalannya kembali ke dunia saya. Atau mungkin diri saya yang lain sedang resah, sehingga terus menerus merongrong saya untuk mendapatkan perhatian cukup. Atau….kemungkinan terakhir adalah, saya perlahan tapi pasti ditarik kembali ke dunia nyata, setelah sebelumnya disibukkan dengan persiapan pernikahan, euphoria paska pernikahan sampai bulan madu. Kayaknya kemungkinan terakhir paling realistis yach? Mengingat esok saya harus kembali ke Jakarta, dan harus mulai bergumul lagi dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk.

Kadang-kadang jadi ketawa sendirian kalau ingat saya sudah menikah. Hiii….kok kayaknya rasanya aneh banget yach? Jangan salah, rasa ini datang bukan karena saya gak yakin sama pasangan saya lho. Kalau yakin sih yakin….because he feels right, keberadaan dia dekat saya terasa sangat wajar, seperti memang seharusnya. Tapi yang buat saya aneh adalah pernikahan itu sendiri. Mungkin karena selama ini saya terlalu terbiasa samen laven (hehehehe….), terlalu terbiasa membagi hidup dengan pacar-pacar saya. Jadinya ketika masuk ke jenjang pernikahan dan semua orang sepertinya hobi banget membesar-besarkan arti pernikahan itu, saya kok jadi ngerasa…"Lah? Memang apa bedanya dengan sebelum-sebelumnya?".

Pastinya memang ada yang beda. Saya tahu itu, walaupun saya belum menemukan yang paling signifikan. Tapi sejujurnya saya memang sedari dulu menghindari untuk membesar-besarkan arti pernikahan. Sampai sekarang pun, saya enggan menyebut pasangan saya dengan sebutan "suami", kayaknya kok aneh ya? Kayaknya istilah suami/istri itu punya konotasi sendiri, yang didalamnya memuat peran-peran yang lazim dianut masyarakat, misalnya: suami sebagai kepala rumah tangga, suami sebagai imam, istri sebagai penjaga keharmonisan rumah tangga, istri sebagai pemelihara rumah tangga. Halah. I don't believe in all that crap. Saya gak mau terjebak dalam peran-peran yang kemudian bertentangan dengan apa yang saya percaya.

Intinya sih, saya enggak mau terjebak dalam mitos-mitos pernikahan yang umum dipahami oleh masyarakat. Pertama, ya mitos pembagian peran yang saya sebutin diatas, Kedua, mitos bahwa pernikahan adalah ambang kehilangan jati diri. Ketiga, mitos bahwa pernikahan bertujuan untuk menghasilkan keturunan dan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.

Untuk mitos ketiga, ya sudahlah saya enggak akan banyak komentar. Tapi sejujurnya, saya paling takut dengan mitos yang kedua. Karena mitos ini yang paling mengancam diri saya. Milan Kundera dalam fiksinya berjudul "Identity" menggambarkan bagaimana sebuah komitmen jangka panjang selalu menghasilkan kompromi-kompromi. Ya well, memang mungkin kompromi itu wajar banget yach? Karena tidak ada orang yang punya keinginan dan kebutuhan yang sama, sehingga untuk bisa terus bersama mau tidak mau kompromi harus dilakukan. Tapi kemudian, kompromi yang berlebihan akhirnya membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Hal ini bisa banget lho terjadi, misalnya nih: Pasangan Mr. X dan Mrs. X baru menikah dan ingin melakukan semua upaya untuk dapat membahagiakan satu sama lain. Mereka kemudian mencoba untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan mereka (baik/buruk) yang mereka tahu tidak disukai pasangannya. Wajar lah, baru menikah, jadinya in the name of love semuanya terasa mudah dan mungkin. Tahun pertama, tahun kedua, semuanya baik-baik saja. Enggak ada masalah. Ternyata memang kebiasaan itu bisa ditinggalkan kok, pikir mereka. No harm done. Perlahan-lahan, muncul tuntutan-tuntutan untuk membuang kebiasaan lama yang lain, atau malah tuntutan-tuntutan untuk memulai kebiasaan baru yang selama ini tidak pernah terlintas sedikit pun di kepala mereka. Hebatnya lagi, tuntutan itu kadang bukan datang dari pasangan mereka tapi simply dari keinginan untuk menyenangkan hati pasangan saja. And…Zap! Without they even knowing it, they lost their true self.

Make sense gak sih? Apakah emang itu yang harusnya terjadi yach? Apa saya aja yang terlalu egois untuk tidak mau merubah apapun dari diri saya?. Sejujurnya hal ini udah mulai berasa, dan hebatnya lagi…pasangan saya bahkan tidak pernah meminta saya untuk berubah atau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan apapun. Saya hanya nebak-nebak aja dari penggalan-penggalan obrolan, baik kepada saya atau kepada orang lain.  Tapi kemudian emang jadinya saya yang aneh…yang suka ngebuat pasangan saya bingung ngeliat saya misuh-misuh, resah dan marah-marah enggak jelas. Kayak freak out sama sesuatu yang enggak nyata.

Jadinya, mulai sekarang saya memutuskan untuk enggak mikir macem-macem. Prinsipnya satu deh, sesuatu itu nyata ketika ia ada (it's debatable of course, but hey, it's easier that way). Semua asumsi-asumsi yang tidak berdasarkan fakta-fakta harus dieliminir segera dan saya, ya seorang saya, harus lebih SABAR.

Lagipula, saya dan pasangan udah punya komitmen kok untuk tetap punya ruang privat, dan saling menghargai ruang privat masing-masing. Saya pikir itu cukup untuk membuat kita jangan sampai kehilangan jati diri. Rite? Rite? Rite?

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments